Kesantunan Berbahasa Terhadap Nilai Budaya Suku Bugis-Makassar: Suatu Telaah Sosiopragmatik

Penulis

  • Rusdi Room Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

DOI:

https://doi.org/10.59638/isolek.v3i2.790

Kata Kunci:

Linguistic Politeness, Bugis-Makassar Culture, Siri’, Sociopragmatics, Local Wisdom

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis praktik kesantunan berbahasa dalam kaitannya dengan nilai budaya masyarakat Bugis-Makassar, khususnya nilai Sipakatau, Sipakalebbi/Siakalabbiri, Siri’, dan Pangngaderreng/Pangngadakkang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain sosiopragmatik yang dipadukan dengan perspektif etnografi komunikasi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta dokumentasi tuturan dalam ranah keluarga dan pendidikan di Sulawesi Selatan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, kategorisasi strategi kesantunan, serta interpretasi kontekstual menggunakan teori kesantunan Penelope Brown dan Stephen C. Levinson yang dikontekstualisasikan dengan konsep harga diri kolektif dalam budaya Bugis-Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik kesantunan berbahasa masih merefleksikan sistem nilai budaya lokal yang kuat. Sistem sapaan, penggunaan bentuk honorifik, serta strategi komunikasi tidak langsung berfungsi sebagai mekanisme menjaga face dan martabat sosial. Nilai Siri’ terbukti menjadi landasan utama dalam mengontrol perilaku tutur dan menjaga harmoni sosial, sementara prinsip Sipakatau dan Sipakalebbi memanifestasi dalam pilihan leksikal yang menunjukkan penghormatan dan pemuliaan terhadap mitra tutur. Namun demikian, modernisasi, pergeseran pola interaksi, serta berkurangnya penggunaan bahasa daerah berimplikasi pada melemahnya internalisasi nilai kesantunan pada sebagian generasi muda. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman praktik kesantunan dalam masyarakat Bugis-Makassar memerlukan integrasi antara teori kesantunan universal dan kerangka nilai budaya lokal. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian sosiopragmatik berbasis kearifan lokal, sedangkan secara praktis memberikan dasar konseptual bagi penguatan pendidikan karakter dan pelestarian budaya melalui praktik komunikasi yang beretika.

Referensi

Achmad, Syarifuddin (2012) "Strategi kesopanan berbahasa masyarakat Bugis Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan," Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya: Vol. 40: No. 1, Article 1. DOI: https://doi.org/10.17977/um015v40i12012p1-13

Agus, Nuraidar. (2012). Perilaku Berbahasa Daerah Kaum Remaja di Sulawesi Selatan: Sebuah Rekonstruksi Menuju Pemartabatan Nilai Kesantunan Berbahasa. Makalah Kongres Internasional Bahasa Daerah II di Makassar. Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat.

Arif, A. M. (2020). PERSPEKTIF TEORI SOSIAL EMILE DURKHEIM DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN. Moderasi: Jurnal Studi Ilmu Pengetahuan Sosial, 1(2), 1-14. https://doi.org/10.24239/moderasi.Vol1.Iss2.28

Darwis, M. (2008). Reorien-tation of Social Strata in Buginese Community. A Sociolinguistic Analysis. Jurnal Buletin Penelitian Universitas Hasanuddin, 7.

Gusnawaty, G. (2011). Perilaku Kesantunan dalam Bahasa Bugis. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Gu, Y. (1990). Politeness phenomena in modern Chinese. Journal of pragmatics, 14(2), 237-257.

Haugh, M. (2003). Anticipated versus inferred politeness. Multilingua, 22(4), 397-413.

Kummer, M. (1992). Politeness in Thai. na.

Laini, N., & Budiyono, S. C. (2025). Kesantunan Berbahasa dalam Novel Candra Kirana Karya Ajip Rosidi?: Kajian Pragmatik. Journal of Education Research, 6(3), 518–530. https://doi.org/10.37985/jer.v6i3.2366

Madeamin, R. (2015). Pergeseran Bahasa Bugis di Sulawesi Selatan. Buginese Language Shift in South Sulawesi]. PhD diss., Hasanuddin University, Makassar, Indonesia.

Mahmud, M. (2010). Politeness in Bugis: A Study in Linguistic Anthropology Volume I and II. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.

Matsumoto, Y. (1988). Reexamination of the universality of face: Politeness phenomena in Japanese. Journal of pragmatics, 12(4), 403-426. https://doi.org/10.1016/0378-2166(88)90003-3

Matsumoto, Y. (1989). Politeness and conversational universals–observations from Japanese.

Mattulada, L. (1975). Suatu Lukisan Analisis Terhadap Antropologis Orang Bugis. Universitas Indonesia Disertasi, Jakarta, 333.

Mattulada. (1991). Menyusuri jejak kehadiran Makassar dalam sejarah, 1510-1700. Hasanuddin University Press.

Mattulada, H. (2022). Manusia dan Kebudayaan Bugis Makassar dan Kaili di Sulawesi. LOBO: Annals of Sulawesi Research, 6(S7).

Penelope Brown, & Levinson, S. C. (1978). export_endnote. In Universals in language usage: Politeness phenomena. In Questions and politeness: Strategies in social interaction (hal. 56–311). Cambridge University Press. https://pure.mpg.de/pubman/faces/ViewItemOverviewPage.jsp?itemId=item_66660

Puteh, Othman. (1996). Konsep nilai dalam kesusasteraan Melayu. In Sitti Aisyah Murad (Ed), pengenalan (pp. vii-xviii) Kuala Lumpur. Dewan Bahasa dan Pustaka.

Rahim, Rahman. (2011). Nilai-nilai utama kebudayaan Bugis. Penerbit Ombak. Yogyakarta.

Room, R., & Syukriady, D. (2024). Sapaan Santun ‘Iye’ Dan ‘Tabe’ Dalam Falsafah Budaya Bugis-Makassar. ISOLEK: Jurnal Pendidikan, Pengajaran, Bahasa, dan Sastra, 2(2), 344–355. https://doi.org/10.59638/isolek.v2i2.412

Said, Ide. (1985). Subsistem honorifik bahasa Bugis: Sebuah kajian sosiolinguistik.

Sibarani, R. (2004). Antropolinguistik: Antropologi linguistik, linguistik antropologi. Poda.

Taufiq, A. M., Amar, M. A., & Sukarni, S. (2026). STRATEGI KESANTUNAN DAN REALISASI TINDAK TUTUR DALAM INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT BUGIS?: KAJIAN SOSIOPRAGMATIK. Panthera?: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sains Dan Terapan, 6(1), 383–390. https://doi.org/10.36312/panthera.v6i1.959

Wahid, S. (1992). Metafora Bahasa Makassar. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Makassar.

Wahid, S. (2010). Manusia Makassar. Penerbit. Refleksi. Makassar.

Watts. R. J. (2003). Politeness. Key topics in sociolinguistics. Cambridge: Cambridge University Press.

Yassi, Abd. Hakim. (2012). Model sistem kesantunan bahasa Makassar: mengkaji keuniversalitasan teori kesantunan Brown & Levinson. Hasil penyelidikan. Dibentangkan dalam Kongres Internasional Bahasa Daerah II di Makassar. Sulawesi Selatan.

Yatim, N. (1983). Subsistem honorifik bahasa Makassar: sebuah analisis sosiolinguistik. Intanmas.1601. https://search.informit.org/doi/10.3316/intanmas.1601

##submission.downloads##

Diterbitkan

2025-09-30

Cara Mengutip

Room, R. (2025). Kesantunan Berbahasa Terhadap Nilai Budaya Suku Bugis-Makassar: Suatu Telaah Sosiopragmatik. ISOLEK: Jurnal Pendidikan, Pengajaran, Bahasa, Dan Sastra, 3(2), 86–102. https://doi.org/10.59638/isolek.v3i2.790